
’’Ada lebih dari 10 ribu relawan saat ini, kematian bisa saja muncul. Itu adalah kematian yang tidak berhubungan dengan vaksin dan karenanya ini bukan waktunya untuk menghentikan uji coba,’’ ujar Kepala Butantan Istitute Dimas Covas saat diwawancarai TV Cultura.
CoronaVac menjadi permainan politik di Brasil. Presiden Brasil Jair Bolsonaro tidak setuju dengan penggunaan CoronaVac. Dia lebih memilih menggunakan vaksin yang dikembangkan Oxford University bersama AstraZeneca. Vaksin buatan Sinovac, AstraZeneca, dan Pfizer sama-sama berada di uji klinis tahap III. Ketiganya melakukan uji coba di Brasil yang merupakan negara dengan angka penularan Covid-19 tertinggi kedua di dunia.
’’Rakyat Brasil tidak akan menjadi kelinci percobaan siapa pun,’’ ujar Bolsonaro bulan lalu ketika Kementerian Kesehatan berencana membeli 46 juta dosis CoronaVac.
Berbeda dengan Sinovac, Pfizer justru membawa kabar baik. Mereka mengungkapkan bahwa efektivitas vaksin yang mereka kembangkan mencapai lebih dari 90 persen. Padahal, untuk mendapatkan izin edar dari WHO, hanya dibutuhkan efektivitas lebih dari 50 persen.
Pfizer yang bekerja sama dengan BioNTech menegaskan tidak menemukan masalah keamanan yang serius pada vaksin yang mereka kembangkan. Mereka berharap keputusan izin produksi bisa keluar Desember nanti.
Rusia tak mau kalah. Mereka juga mengklaim bahwa vaksin Sputnik V yang dikembangkan Gamaleya Research Institute of Epidemiology and Microbiology juga memiliki efektivitas lebih dari 90 persen. Data yang didapatkan bukan dari uji coba klinis, melainkan dari penduduk yang sudah ikut program vaksinasi. ’’Ini adalah berita baik untuk semua orang,’’ ujar Direktur Institut Penelitian di Bawah Kementerian Kesehatan Rusia Oksana Drapkina.


