3 Penumpang KRL Positif Covid-19 Hasil Test Swab Bukan Warga Bogor

0
136
Tes-Swab
Suasana tes swab massal di Stasiun Bogor, Senin (27/4/2020) pagi.
Tes-Swab
Suasana tes swab massal di Stasiun Bogor, Senin (27/4/2020) pagi.

BOGOR–RADAR BOGOR, Hasil tes swab yang dilakukan di Stasiun Bogor pekan lalu menunjukan bahwa tiga orang positif Covid-19. Dari penelusuran Dinas Kesehatan Kota Bogor, tiga orang positif itu berjenis kelamin laki-laki dan bukan warga Bogor.

Swab Test di Stasiun Bogor, 3 Penumpang Positif Covid-19

“Hasil telusur kami, dua orang tinggal di Jakarta. Satu orang tinggal di Sukabumi,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor Sri Nowo Retno, Senin (4/5/2020).

Retno menjelaskan, ketiga penumpang ini diketahui bekerja di Jakarta dan kini sudah mendapatkan penanganan oleh masing-masing Dinas Kesehatan domisili masing-masing. Mereka diketahui setiap hari menggunakan kereta rel listrik (KRL).

“Untuk orang Sukabumi kerja di Jakarta. Dua orang lagi juga sama kerja di Jakarta tapi sedang melakukan tugas ke Bogor,” imbuhnya.

Dengan adanya kasus tiga yang positif ini sambung dia, maka ada potensi besar penularan Covid-19 di stasiun dan KRL. Karena itu, dia mengimbau bagi masyarakat yang benar-benar harus keluar rumah wajib memperhatikan protokol pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

“Tetap pakai masker, jaga jarak. Kalau tidak penting-penting banget tidak usah keluar rumah. Kalau pakai moda transportasi umum, mempunyai risiko seperti itu yang kita tidak tahu,” ujar dia.

Dari hasil swab tersebut juga terungkap, ketiga pasien positif itu merupakan orang tanpa gejala (OTG). Merasa ada orang-orang yang sehat-sehat saja tapi sangat berpotensi menularkan virus lebih besar karena beraktivitas normal.

“OTG ini ada orang yang merasa sehat dan merasa tidak memiliki virus. Kalau dia menularkan ke orang yang rentan yang mempunya penyakit bawaan, itu akan jatuh ke dalam kondisi yang lebih buruk. Itu yang perlu diwaspadai,” tegasnya.

Sementara itu, Wali Kota Bogor Bima Arya meninjau aktivitas di Stasiun Bogor, kemarin. Dari pengamatannya, masih terjadi kepadatan penumpang pada pagi hari.

“Memang sudah berkurang 60 persen. Dari keadaan biasa sampai PSBB itu berkurang 60 persen. Tapi 40 persen ini adalah orang-orang yang bekerja disektor yang dikecualikan seperti perbankan, cleaning service, apotek, minimarket, logistik,” ujar Bima.

Ia menyatakan, harus ada evaluasi kebijakan agar PSBB yang sedang berlangsung tidak menjadi hal yang sia-sia. “Jadi opsi pertama paling ideal adalah setop (operasional KRL) total. kedua, memperketat di sini (stasiun). ketiga mungkin dievaluasi layanan gerbong dan jadwalnya semaksimal mungkin,” jelasnya.

Opsi lain yang bisa diambil adalah memaksimalkan layanan antar jemput dari perusahaan yang dikecualikan boleh beroperasi selama PSBB di seputar Jakarta. Bagi perusahan, pabrik atau unit ekonomi apapun silahkan menyediakan layanan bagi karyawannya. ”Jadi lebih terkontrol,” tambahnya.

Berdasarkan kajian epidemiologi, kata dia, yang terpapar Covid-19 itu mayoritas dari kerumunan seperti stasiun dan pasar. Karena itu, dia mengaku evaluasi PSBB ini akan disampaikan kepada pemerintah pusat untuk menjadi dasar perubahan kebijakan.

“Tidak bisa tidak, harus ada evaluasi kebijakan. Kemarin kita koordinasi di Whatsapp Group 5 kepala daerah. Kita akan bersurat lagi lebih detail memberikan opsi-opsi tadi untuk dibahas oleh kementerian,” pungkasnya. (ded/*/c)